PROPOSAl
TUGAS AKHIR
STUDI
KERUSAKAN SHORT DRIVE SHAFT KEMPA ULIR PADA PABRIK PENGOLAHAN KELAPA SAWIT
Disusun oleh
HAMDUN ISMAIL
1011211016
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2014
Kata pengantar
Puji syukur kehadirat tuhan yang maha kuasa
atas segala limpahan rahmat,inayah taufik dan hinayahnya sehingga saya dapat
menyelesaikan penyusunan contoh proposal skripsi ini.Semoga contoh proposal
skripsi ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan,petunjuk maupun pedoman
bagi para mahasiswa yang ingin
menyelesaikan tugas akhir.
Harapan saya semoga contoh proposal skripsi ini membantu menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,sehingga dapat memperbaiki bentuk
maupun isi contoh proposal skripsi ini sehingga kedepanya dapat lebih baik.
Proposal ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang.Oleh karena itu saya harapkan kepada ara pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
proposal ini.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengolahan buah
kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha
perkebunan kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit, inti
sawit, serabut, cangkang dan tandan kosong(Basil
Okafor,2007).Pada proses pengolahan,
keberadaan mesin Screw Press sangat diperlukan karena komponen ini
berfungsi sebagai pemeras daging buah (mesocarp) kelapa sawit yang telah
menjadi adonan/ bubur, sehingga menghasilkan
minyak kelapa sawit (CPO) sebagai hasil utama dan inti sawit serta serabut
sebagai sisa hasil dari proses di unit Screw Pres(O.K. Owolarafe, A.S, Osunleke and B.E,2007).
Short Drive Shaft pada
mesin screw press berfungsi sebagai penerus putaran dari speed
reducer ke worm screw press. Untuk mendukung hasil yang optimal pada
proses pengolahan maka kondisi Short Drive Shaft Screw Press harus di pelihara dengan baik,
sehingga proses aktivitas produksi tidak
mengalami gangguan.
Terjadinya gangguan kerusakan pada Short
Drive Shaft Screw Press akan mengakibatkan kerusakan pada beberapa komponen
lain pada unit Screw Press (lihat gambar 3) disamping itu proses
aktvitas pengolahan buah sawit menjadi minyak sawit akan berhenti, yang berimbas
pada berkurangnya stok CPO, dan selanjutnya akan menghambat pengiriman pesanan konsumen.
Hal tersebut menyebabkan turunya kepercayaan konsumen akan ketepatan penyediaan
bahan baku CPO untuk industri hilir.
Selain itu dampak yang timbul akibat terganggunya
proses pengolahan pada unit Screw Press adalah menumpuknya tandan buah
segar (TBS) yang sudah siap untuk diolah, sehingga akan mengakibatkan TBS
terlalu matang (bahkan akan mulai membusuk), hal ini sangat merugikan karena
akan berakibat menurunya kualitas dari CPO. Imbas lain berhentinya proses pada unit
Screw Press adalah tertundanya masa panen buah matang yang masih berada
di pohon, sehingga pada saat buah di panen sudah terlalu matang, hal ini akan
menyebabkan menurunnya kualitas TBS(Dr. Ir. Ponten M.
Naibaho,1996).
Berhentinya proses pengolahan pada unit
Screw Press yang memakan waktu cukup lama dan akan mengganggu keseluruhan
proses pengolahan diakibatkan karena Short Drive Shaft Screw Press mengalami
kerusakan /patah . Melihat pentingnya kegunaan dari Short Drive Shaft
Screw Press dan untuk menghindari kerusakan yang sama maka dilakukan suatu studi mengenai penyebab kerusakan yang
sering terjadi. Dengan melakukan kajian
kerusakan dapat diidentifikasi faktor-faktor penyebab dari akar kerusakan Short
Drive Shaft Screw Press tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Melihat
pentingnya kegunaan dari Poros Penggerak (drive shaft),Makarumusan masalah pada penelitian kali ini
adalah.
1. Menentukan
penyebab terjadinya kerusakan pada short drive shaft.?
2. Penyebab kelelahan pada short
drive shaft.?
3.
Usaha yang dilakukan untuk penanggulangan
kerusakan yang sama di kemudian hari.?
1.3 Batasan Masalah
Kegiatan penelitian
akan difokuskan pada studi kerusakan Short Drive Shaft Screw Press yang
mengalami kerusakan. Penelitian dilaksanakan melalui pendekatan teoritis
dan eksperimental. Pendekatan teoritis dilaksanakan melalui pengembangan
teori terbaru mengenai spesifikasi Short Drive Shaft Screw Press dan
aplikasinya dalam proses aktifitas pengolahan buah kelapa sawit.
Pendekatan eksperimental dilaksanakan melalui pengujian yang meliputi :
pemeriksaan visual, metalografi, kekerasan,fraktografi, analisa komposisi kimia
dan pengujian korosi. Setelah pendekatan teoritis dan eksperimental dilakukan
kemudian melaksanakan analisa hasil verifikasi data toritis terhadap data
eksperimental, dan dilanjutkan dengan penulisan SKRIPSI.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan
adalah:
1. Menentukan
penyebab utama dan mengutarakan secara jelas timbulnya kerusakan.
2. Mendapatkan
petunjuk-petunjuk yang berguna untuk mencegah timbul dan meluasnya kerusakan.
3. Menentukan
langkah-langkah perbaikan/koreksi desain untuk mencegah terjadinya kerusakan
yang sama dikemudian hari.
1.5 Sasaran Penelitian
Dengan
diketahuinya penyebab kerusakan sehingga bisa ditetapkan langkah-langkah
pencegahan untuk menghindari kerusakan yang sama.Dengan demikian komponen Short
Drive Shaft Screw Press yang sering mengalami kerusakan dapat dicegah dan
umur pakai dari komponen tersebut lebih tahan lama. Dengan demikian akan
berpengaruh pada proses aktifitas pengolahan pada unit Screw Press berjalan
lancar serta keseluruan proses pengolahan
buah kelapa sawit berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Untuk mendukung hasil yang optimal aktivitas
produksi tidak mengalami gangguan. Terjadinya gangguan pada unit Kempa Ulir (Screw
Press) akan mengakibatkan berhentinya proses aktivitas pengolahan buah
sawit menjadi minyak sawit, yang berimbas pada berkurangnya stok CPO, dan
selanjutnya akan menghambat pengiriman pesanan konsumen. Hal tersebut
menyebabkan turunya keper-cayaan konsumen akan ketepatan penyediaan bahan baku
CPO untuk industri hilir.
Selain itu dampak yang timbul akibat
terganggunya proses pengolahan pada unit Kempa Ulir (Screw Press) adalah
menumpuknya tandan buah segar (TBS) yang sudah siap untuk diolah, sehingga akan
mengakibatkan TBS terlalu matang (bahkan akan mulai membusuk), hal ini sangat
merugikan karena akan berakibat menurunya kualitas dari CPO. Berhentinya proses
peng-olahan akibat gangguan pada unit Screw Press disebabkan oleh
beberapa faktor, diantaranya: Kebocoran pada seal, Kerusakan pada Worm
Screw, Keausan pada bantalan, Keausan pada Conus, Kerusakan pada
Poros Penggerak (drive shaft), Kerusakan pada elektro Motor, Keausan
pada Intermidiate Gear, Keruskan Speed Reducer(John
Taulo,2005).
Dari beberapa faktor
diatas yang menyebabkan Screw Press mengalami gangguan operasional dan
memakan waktu paling lama dalam perbaikan adalah ketika Poros Penggerak (drive
shaft) Worm Screw mengalami kerusakan (patah).
Melihat pentingnya kegunaan dari Poros
Penggerak (drive shaft) dan untuk menghindari kerusakan yang sama, maka
dilakukan suatu studi mengenai penyebab kerusakan. Dengan melakukan kajian
keru-sakan diharapakan dapat diidentifikasi faktor-faktor penyebab dari akar
kerusakan Poros Penggerak Kempa Ulir (drive shaft Screw Press) tersebut,
sehingga nantinya dapat diam-bil kesimpulan yang berguna untuk tindakan
pencegahan kerusakan di kemudian hari.
2.2 Tinjauan Pustaka
Analisa kerusakan bertujuan untuk
menentukan penyebab utama dari suatu kerusakan, sehingga kemudian dapat
dila-kukan langkah-langkah koreksi/ perbaikan untuk mencegah terjadinya
kerusakan yang sejenis dikemudian hari. Mekanisme kerusakan/kegagalan komponen
atau alat dalam operasi yang mungkin terjadi dapat berupa keausan (wear);
Korosi (corrosion); Perubahan bentuk (distorsion); Retak/
patah/pecah akibat: Kelelahan (fatigue), Beban berlebih (overload),
Suhu tinggi (elevated temperature failures), Lingkungan (environmentally
affected fractures) dan Perubahan warna/penampaka(Stolarski,
T.A,1990).Untuk mencegah kerusakan yang fatal pada komponen
dapat dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:
a. Menurunkan
tegangan kerja melalui perbaikan desain yang meliputi:bentuk, ukuran/dimensi;
susunan/ tata letak dan perakitan
b. Meningkatkan
ketahanan material/ komponen yang meliputi: pemilihan material yang sesuai;
perbaikan proses manufaktur, perlakuan panas dan pabrikasi/ perakitan;
perbaikan lapisan pelindung permukaan (surface treatment).
c. Mengendalikan
lingkungan yang meliputi:temperatur kerja; tekanan/ tegangan kerja;
kontaminasi/ pengotor; kosentrasi lingkungan korosif; kecepatan aliran fluida
dan penggunaan corrosion inhibitor.
1. Kegagalan Lelah
Bila
logam mengalami pembebanan yang berubah/ berfluktuasi baik besar maupun arahnya
terhadap waktu operasi (beban dinamik), kerusakan dapat terjadi pada tingkat beban
yang sangat rendah dibandingkan terhadap kondisi statis. Sifat ini disebut
kelelahan (fatigue)( W. O. Alexander,1995).Kegagalan
lelah adalah kondisi yang sangat berbahaya, sebab terjadinya tanpa didahului
tanda-tanda awal. Sedangkan akibat kelelahan dapat menyebab-kan patah yang
tampak rapuh dengan tidak diawali deformasi pada patahan tersebut. Walaupun
pembebanan dinamis itu terjadi pada daerah elastis, akan tetapi sudah mampu
menimbulkan deformasi plastis secara lokal (plastisitas mikro) pada
bagian logam yang lemah. Hal ini berlangsung terus menerus dan
berangsur-angsur akan mengarah kepada pembentukan retak yang kemudian menjalar
menimbulkan kerusakan pada logam(AK DAS,1996).
Proses
kerusakan/patah akibat fatik meliputi 3 tahapan, yaitu: permulaan retak; penjalaran
retak dan patah akhir.Salah satu hal yang terkait dengan patah akibat fatik
adalah pembebanan, ada beberapa kondisi pembebanan yang menye-babkan fatik,
yaitu: Fluktuasi tegangan, mencakup getaran (vibration); Fluktuasi
regangan; Fluktuasi temperatur (thermal fatigue), atauSalah satu dari kondisi
di atas di dalam lingkungan korosif atau pada suhu tinggi.Sebagai langkah awal
perlu menge-tahui bentuk siklus tegangan yang bisa menyebabkan kelelahan, seperti
terlihat pada gambar 2.3 berikut ini.
Gambar 2.3 Siklus tegangan lelah
(a)
Tegangan balik (complete reversal)
Gambar
siklus tegangan adalah berbentuk sinusoidal, dimana tegangan berfluktuasi pada
tegangan rata-rata nol dengan amplitudo yang constant, tegangan maksimum dan
minimum adalah sama besar. Tegangan minimum adalah tegangan terendah pada suatu
siklus, tegangan tarik dianggap positif dan tegangan tekan dianggap negatif.
(b).
Tegangan berulang (repeated)
Dimana
tegangan berfluktuasi pada tegangan rata-rata diatas nol dengan amplitudo yang
konstan, tegangan maksimum dan minimumnya tidak sama keduanya adalah tegangan
tarik.
(c). Siklus tegangan
acak atau tak-teratur (complicated)
Dimana
siklus dan tegangan rata-rata berubah baik secara acak (random) atau
dengan suatu bentuk tertentu.
Patah karena fatik mulai terjadi sebelum
terbentuknya suatu retak. Akibat beban siklus maka terjadi deformasi plastis (slip)
secara lokal. Bila slip terjadi, maka slip tersebut dapat terlihat pada
permukaan logam sebagai suatu tangga (step) yang disebabkan oleh
pergerakan logam sepanjang bidang slip. Demikian seterusnya maka lama-kelamaan
akan terjadi suatu retak. Siklus untuk menimbulkan awal retak dan penjalaran
retak tergantung pada tegangan pada yang bekerja. Bila tegangan yang bekerja
tinggi maka waktu terbentuknya awal retak akan lebih pendek. Pada tegangan yang
sangat rendah (low cycle fatigue) maka hampir seluruh umur fatik
digunakan untuk membentuk retak awal. Pada tegangan tinggi sekali (high
sycle fatigue) retak terbentuk dengan cepat.
2. Perpatahan
(fracture)
Perpatahan karena beban statis atau
dikenal sebagai perpatahan karena beban yang berlebihan diakibatkan material
mendapat beban yang dinilainya lebih tinggi dari kekuatan material tersebut.
Patah karena beban statis ini umumnya terjadi pada laju pembe-banan yang tinggi
atau jika material mendapat beban kejut. Sedangkan perpatahan karena beban
dinamis dikenal dengan perpatahan lelah, dengan tipe patahan disebabkan
pem-berian beban yang berubah besarnya ataupun arahnya. Fluktuasi beban akan
mengakibatkan kelelahan pada material jika kekuatan lelah material terlampaui,
material akan patah. Umumnya penjalaran retak pada patahan lelah ini sulit
terdeteksi sampai diketahui material rusak setelah terjadi perpatahan.
Disamping pengaruh tegangan mekanis
seperti diuraikan diatas, pengaruh kimiawi, temperatur dan lain-lain juga ikut
membantu proses terjadinya patahan. Lokasi terjadinya patahan ditentukan oleh
letak daerah kritis pada komponen/benda kerja, serta besar dan arah tegangan
maksimumnya.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Bahan yang Digunakan
Didalam
penelitian ini bahan yang dipakai adalah materialshort drive shaft kempa
ulir (screw pres) yang mengalami patah, yaitu baja ASSAB 709 (AISI/SAE
4140) dengan komposisi kimia sebagai berikut:
Dengan sifat
mekanik sebagai berikut:
1.
Kekuatan Luluh (yield strength) : 600
N/mm2
2.
Kekuatan Tarik (tensile strength):
800-950 N/mm2
3.
Elongasi (elongation) : 14 %
4. Pengurangan
Area (reduction of area) : min. 55 %
5. Kekuatan
Tumbuk (impact strength) : 25 Joule
6. Kekerasan
(hardness) : 245-290 HB
3.2 Peralatan yang Digunakan
Adapun peralatan yang digunakan pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Peralatan
pembuatan benda uji, yaitu mesin potong abrasive, mesin poles, ampelas dan
lain-lain yang ada di B2TKS-PusPitek Serpong.
2) Peralatan
spectrometer dengan system komputerisasi untuk analisa komposisi kimia.
3) Peralatan
uji fraktografi
4) Peralatan
uji struktur mikro berupa mikoroskop optic.
5) Peralatan
uji mekanis, seperti alat uji kekerasan dan alat uji tarik.
3.3
Diagram Alir Penelitian
|
MULAI
|
|
PEMILIHAN BENDA
UJI
|
|
ANALISA DAN
PENGAMBILAN KESIMPULAN
|
|
SELESAI
|
|
PENGUJIAN SISTEM
|
|
STUDI LITERATUR
DAN MENGUMPUL DATA
|
3.4 Proses Penelitian
1. Studi
literatur
Studi literatur dilakukan dengan melakukan
studi data terhadap buku literatur tentang Short Drive Shaft dan keterkaitan permasalahan
yang sering terjadi pada mesin Screw Press dalam proses aktifitas pengolahan
kelapa sawit. Selain itu juga dilakukan pencarian di Internet tentang Short
Drive Shaft Screw Press pada pengolahan buah kelapa sawit.
2.
Pengumpulan
data pendukung
Setelah
dilakukan studi literatur, kemudian dilakukan pengumpulan data pendukung
tentang spesifikasi dan background terjadinya kerusakan pada Short Drive Shaft
Screw Press.
3.
Pemilihan
benda uji.
Setelah seluruh data pendukung didapat
Kemudian dilanjutkan pemilihan benda uji yang mewakili dari material yang
mengalami kerusakan (patah).
4. Pengujian
sistem
Pengujian dilakukan untuk mendukung
penelitan maka dilakukan pengujian yang meliputi: pemeriksaan visual,
metalografi, kekerasan, fraktografi, analisa komposisi kimia dan pengujian
korosi. Di samping itu juga dilakukan analisa tegangan dengan NASTRAN untuk
mengetahui distribusi tegangan yang terjadi pada Short Drive Shaft Screw
Press.
5.
Analisa dan pengambilan kesimpulan
Setelah pengujian telah selesai dilakukan
kemudian menganalisa semua hasil pengujian, memformulasikan kesimpulan dan
saran rekomendasi
BAB IV
WAKTU DAN TEMPAT
|
NO
|
JADWAL
KEGITAN
|
Des
|
Jan
|
Feb
|
Mar
|
April
|
Mei
|
Juni
|
|
2013
|
2014
|
2014
|
2014
|
2014
|
2014
|
2014
|
||
|
1
|
Penyusunan dan
presentasi
proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Studi
literatur
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Pembuatan
program
pengujian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Pengujian dan
analisa
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Penulisan
laporan
Skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Pemeriksaan
laporan
Skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Ujian seminar
Skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Perbaikan hasil
seminar
Skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Ujian akhir/
sidang
Skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB V
RINCIAN BIAYA
|
NO
|
Jenis pengeluaran
|
Volume
|
Harga(Rp)
|
|
1
|
Peralatan sewa
a)
Kamera
b)
Pembuatan Spesimen Uji
c)
Sewa Alat Uji
|
2 Bulan
10Bulan
1 Bulan
|
400.000,-
1.000.000,-
2.500.000,-
|
|
SUB TOTAL
|
|
3.900.000,-
|
|
|
2
|
Bahan Habis Pakai
a)
Sarung Tangan
b)
Masker
|
10 Buah
30
|
30.000,-
70.000,-
|
|
SUB TOTAL
|
|
100.000,-
|
|
|
3
|
Perjalanan
a)
Akomodasi
b)
Transportasi PP
|
6 Bulan
6 Bulan
|
1.500.000,-
1.850.000,-
|
|
SUB TOTAL
|
|
3.250.000,-
|
|
|
4
|
Seminar/sidang
a)
Seminar
b)
Sidang
|
1 kali
1 kali
|
300.000,-
650.000,-
|
|
SUB TOTAL
|
|
1.150.000,-
|
|
|
5
|
Laporan/publikasi
a)
Penggandaan
b)
Laporan
c)
Artikel Ilmiah
|
5 rangkap
5 rangkap
2 rangkap
|
225.000,-
225.000,-
200.000,-
|
|
SUB TOTAL
|
|
650.000,-
|
|
|
|
JUMLAH TOTAL
|
|
9.050.000,-
|
|
Sembilan juta lima puluh ribu
rupiah
|
|||
DAFTAR PUSTAKA
1. Basil Okafor, Wear In Screw Press : A Major Problem In
Oil Palm
Mills, Medwell Journals, Depaetment of Mechanical Engineering,Fedral
University of Technology, Owerri-Imo State, Nigeria, 2007
2. O.K. Owolarafe, A.S,
Osunleke and B.E. Oyebamiji, Effect of
hydraulic press parameters
on crude palm oil yield, Obafemi Awolowo
Univeristy, Ile-Ife, Nigeria, 2007
3. Basil Okafor, Modeling
of Metal Wear in Screw Presses in Palm Oli
Mills, Medwell Journals, Depaetment
of Mechanical Engineering, Fedral University of Technology, Owerri-Imo State,
Nigeria, 2007
4. John Taulo, Design
and Developmentof Screw Press, Deputy
Director (Research and
Development) Malawi Industrial Research and Technology Development Centre, 2005
5. Dr. Ir. Ponten M. Naibaho, Teknologi Pengolahan Kelapa
Sawit,
Pusat Penelitian Kelapa
Sawit, Medan, 1996.
6. Loh, Tong Weng, Innovative Methods in Oil Processing/Oil
Palm
Industry. PORIM National Palm Oil Milling and Refining Technology Conference,
Kuala Lumpur, 1994.
7. Sivasothy Kandiah, Masitah
Hasan and Mashkuri Yaacob, The
Current Status of Automation
of The Sterilization Process in Malaysian Palm Oil Mills. Palm Oil Research Institute of Malaysia, Faculty of Engineering
and Faculty of Electrical Engineering, Universiti Malaya 1990
8. Stolarski, T.A, Tribology in Machine Design, Heineman
Newness,
Oxford. 1990.
9. W. O. Alexander. Dasar Metalurgi Untuk Rekayasawan, PT.
Gramedia, Jakarta 1995
10. AK DAS, Metallurgy Of Failure Analysis, Tata
McGraw-Hill
Publishing
Campany Limited, New Delhi, 1996
LAMPIRAN
Gambar.
1. Screw Press Dobel Sekerup
(Kapasitas 10- 12
Ton/TBS/Jam)
|
|
|
|
Gambar. 2. Short Drive
Shaft Screw Press Yang Rusak/Pata
|
|
|
|
|
|
|
|
5
Gambar. 3. Efek dari
Kerusakan Short Drive Shaft Screw Press Terhadap Komponen Lain
|
|
Gambar.
4. Short Drive Shaft Screw Press Yang Baru
Gambar 2.1. Short
drive shaft kempa ulir (screw pres) yang patah